Karangtaruna Pangandaran kok ke Wlahar Wetan?

Datang pake kaos biru gratisan cap “infopwt” dan jeans belel. Ga ada niatan apa-apa, sekedar ngormati acara desa Wlahar Wetan yang menurut Kadesnya, akan kedatangan tamu dari rombongan Karangtaruna Kab. Pangandaran, Jawa Barat (26/12).

 

Senin pagi itu, agenda sebagai ayah masih padat. #PencitraanAyah

Maklum, beberapa hari sebelumnya Daanish anget, mriang. Untung hari itu sudah mulai sembuh dan langsung minta main ke tempat Mbahnya. Duh, baru ingat, ternyata Kades Wlahar Wetan sudah whatsApp beberapa kali, minta bantuan saya desain dan cetak banner acara sarasehan.

Ah sudahlah, acaranya mulai jam 9, sementara jam 8 percetakan baru buka. Jam 7 pagi itu baru buka laptop. Walaupun ga mungkin bisa kekejar nyetak bannernya, tapi tetep saya buat desain backdrop acara itu.

Setelah mengantar Daanish (dan bundanya) ke tempat Mbah, saya bablas ke Wlahar Wetan. Niatnya cuma dolan aja, ngeliat acara Karangtaruna seperti apa sih. Gitu dalam hati. Sampai ke lokasi, pas acara sambutan-sambutan.

Ada yang menarik, ketika perwakilan Karangtaruna Kab. Banyumas

Beliau berkata “Kok bisa ya, Karangtaruna Pangandarandatang ke Wlahar Wetan, saya bahkan tidak tahu disini ada karangtaruna, padahal kalau saya tahu ada banyak karangtaruna yang berprestasi seperti di Kemutug, Kedungbanteng, Sumpiuh dll”.

Begitu kata yang sambutan itu. Jelang acara sarasehan saya baru tahu, nama beliau Titin. Entah jabatannya apa, tapi isi sambutannya itu bikin saya ngakak 🙂 ups.

Dalam kesempatan yang sama, Ruspandi, Ketua Karangtaruna Kab. Pangandaran, yang juga anggota DPRD Pangandaran menyatakan, tujuan kunjungan dan sarasehan karang taruna pangandaran di Wlahar Wetan adalah untuk mendapatkan informasi tentang proses pemanfaatan teknologi informasi di desa, sehingga mendukung publikasi dan promosi potensi desa.

Oh, i see. Pak Ruspandi yang memimpin rombongan itu adalah mantan pelaku pemberdayaan desa juga waktu ada program PNPM Mandiri Perdesaan di Pangandaran, masih jejaring kawan-kawan DedemIT Ciamis, ketika Pangandaran masih bagian dari Kab. Ciamis.

Aha! benar saja, ketika selesai acara ramah tamah dan sambutan-sambutan, saya bertemu dengan kawan-kawan pegiat DedemIT Ciamis, kang Uung, Ki Olot (Hasan), Kang Maman dan kang Soleh.

Dari rombongan Pangandaran, kebanyakan ga kenal, kecuali Uwa Ruspandi yang tadi sambutan, dengan si Dewa (entah siapa nama aslinya). Dulu si Dewa juga pegiat PNPM kayaknya, terus sekarang jadi perangkat desa di Cimerak, Pangandaran.

Ada dua sesi sarasehan hari itu. Di sesi pertama, Pradna jadi moderator, dengan empat narasumber, Ruspandi (Ketua Karangtaruna Kab. Pangandaran), Bu Titin (perwakilan pengurus Karangtaruna Kab. Banyumas), Pak Dodiet (Kades Wlahar Wetan) dan saya.

Loh kok saya? iya, entahlah.. saya dipanggil kedepan sebagai perwakilan dari Relawan TIK Kab. Banyumas. Disebut ketua malah.. padahal bukan 🙂

Sepanggung dengan 3 narasumber lain, target saya tentu bisa ditebak. Tak sabar rasanya menjawab pertanyaan lucu bu Titin waktu sambutan pembukaan. Ah tapi tahan dulu, kalem ep kalem.. 🙂

Dalam kesempatan itu, Uwa Ruspandi mengulang maksud kedatangannya beserta rombongan, yakni soal mendapatkan gambaran jelas pemanfaatan teknologi untuk desa, serta bagaimana karangtaruna berperan dalam mendukung publikasi desa.

Agak lucu lagi, bu Titin mengulang soal program kegiatan karangtaruna Kab. Banyumas. Sempat membahas soal TKSK juga, lalu soal peran karang taruna di kecamatan dan beberapa desa. Sangat normatif dan khas banget birokrat. Kurang greget.

Ndilalah, pak Kades Wlahar Wetan nimpali dengan gaya cuek. Beliau menyampaikan bahwa desanya ini minim potensi, yang ada adalah masalah. Tapi bagaimana membalik keadaan yang penuh masalah dengan solusi-solusi taktis, itu komitmen Pemdes Wlahar Wetan. Media informasinya mengoptimalkan website dan medsos, sehingga anak-anak muda lebih mudah dilibatkan dan diajak terlibat kegiatan desa.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya giliran saya.

Saya jelaskan “wlahar wetan itu sebagaimana kata pak Kades tadi, tidak punya potensi yang keren kayak Pangandaran, pun karangtarunanya tidak berprestasi kayak misalnya di desa Kemutug. Saya tanya, teman-teman dari Pangandaran tau kemutug ga?” bwahahaa…

Sontak para peserta geleng-geleng. “Nah itu bedanya. teman-teman di Pangandaran tau ada Wlahar Wetan karena desa ini memanfaatkan teknologi untuk publikasi desanya, kegiatan desanya, sesederhana apa pun, sedangkan banyak desa-desa lain yg katanya keren, berprestasi dan berpotensi luar biasa, tak dikenal, gara-gara diam saja. Belum optimal memanfaatkan teknologi untuk publikasi dan promosi desa”.

Lega.. banget rasanya bisa ngomong gitu.

Selebihnya saya jelaskan juga soal peran Relawan TIK Banyumas membantu desa-desa memanfaatkan teknologi informasi yang tepat guna, walaupun tanpa program jelas, minim dukungan apalagi anggaran. Tak seperti karang taruna yang jelas bisa didukung anggaran desa hingga Pemda 🙂

Saya juga cerita soal peran Relawan TIK di Ciamis, yang kemudian membranding pergerakannya dengan istilah DedemIT (desa-desa melek IT). Sejarahnya pun tak lepas dari Banyumas. Rombongan dari Ciamis, pertengahan 2012 lalu dengan semangatnya datang ke Banyumas mengikuti Lokakarya V GDM di Desa Dawuhan. Selepas acara itu, lahirlah komunitas DedemIT di Ciamis, sementara tanda pengenalnya adalah baju gratisan seragam Relawan TIK :))

Sehingga tak heran, jika Pangandaran yang dulunya bagian dari Ciamis, ketika ngobrolin teknologi informasi terutama untuk pemberdayaan desa, maka referensinya adalah Banyumas. Kebetulan tahun 2016 ini Wlahar Wetan lumayan getol pamer kegiatan di website dan medsosnya.

Di akhir kesempatan itu saya menekankan pentingnya kontinuitas konten di media desa, apapun medianya. Sudut pandangnya harus positif, sehingga pembaca menjadi tertarik dengan desa. Kalau ngomongin kejelakan desa mah, wartawan gadungan juga banyak.

Dalam sesi sarasehan kedua, setelah break makan siang dan sholat dhuhur, gantian saya jadi moderator. Narasumbernya ada empat orang juga, Pak Mul (perwakilan Kecamatan Kalibagor), Kang Maman (DedemIT Ciamis), Akbar Bahaulloh (Puskomedia Indonesia) dan Pradna (Blogger Banyumas).

Acara pun diakhiri dengan beberapa sesi tanya jawab, diskusi dan komitmen tindak lanjut. Tentu, acara inti di penutupan adalah foto-foto bareng :))

Sekian cerita panjang hari ini, walaupun ga ada gunanya gapapa lah. Ga usah dipikir serius, ntar malah lucu kayak si ibu yang tadi pagi sambutan itu :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s