Infografik APB Kampung Omon 2016

Anda tidak salah baca judul. Ini memang infografik APB Kampung Omon tahun 2016. Bukan tahun 2017.

Sekedar informasi bagi Anda yang belum tahu, di Papua, tidak ada istilah “Desa”, yang ada adalah istilah “Kampung”. Istilah ini digunakan oleh pemerintah Papua dan Papua Barat, setelah berlakunya UU Otonomi Khusus Papua. Kalau di Aceh, kita juga mengenal “Gampong” dan di Sumatera Barat ada “Nagari”. Intinya sama, sebutan untuk “Desa”.

Datanya APBK Omon 2016 saya dapat dari pendamping desa yang bertugas di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua, dimana Kampung Omon termasuk dalam wilayahnya.

Putra Harahap, pendamping desa itu. Bertemu saya tidak sengaja, ketika mengikuti kelas sistem informasi kampung dalam rangkaian acara Festival DesTIKa 2016 lalu, di Kalkhote, tepi Danau Sentani.

Waktu itu, saya sempat ngobrol beberapa saat dan menyinggungsoal visualisasi APBK untuk Kampung-kampung yang menjadi dampingannya di Distrik Gresi Selatan, Jayapura.

Beberapa pekan lalu, bang Putra (begitu saya menyapanya) menghubungi saya via WhatsApp, bercerita seputar kegiatannya menggunakan sistem informasi pembangunan berbasis masyarakat (SIPBM).

Nah, saya jadi teringat “hutang” ketika DesTIKa di Jayapura lalu. Lalu tanpa basa basi lagi, bang Putra pun setuju untuk mengirimkan data APBK 2016, salah satunya milik Kampung Omon ini.

Beberapa hari saya pelototin, baru hari ini kelar. Berikut hasil visualisasi APBK Omon tahun 2016 versi ringkas.

Infografik APB Kampung Omon Ringkas by Soep TDK

Sedangkan dalam versi yang agak lebih rinci, berikut adalah poster infografik APBK Omon tahun 2016, ukuran A3.

Infografik APB Kampung Omon Rinci by Soep TDK Poster A3

Keunikan Papua

Ada beberapa elemen yang unik (menurut saya sih) dari infografik APBK Omon ini.

  1. Logo Kampung

    Tidak seperti desa-desa di Pulau Jawa yang kebanyakan selalu menggunakan logo Kabupaten dalam setiap publikasinya, termasuk infografik APBDesa, Kampung Omon di Papua memiliki logo sendiri.

    Saya ingat, beberapa Desa di Lampung juga memiliki logo sendiri. Dulu, bahkan sempat menjadi perbincangan mengenai peletakan logo desa dan logo kabupaten di header website desa mereka. Untung ketemu solusi teknisnya :))

    Logo Kampung Omon sendiri ternyata cukup unik. Berupa perisai, berwarna merah pekat dengan lambang bintang, dua ikat padi serta dua ekor burung Mambruk.

  2. Satwa Khas, Jadi Ikon

    Burung mambruk, salah satu satwa khas Papua yang menjadi ikon kampung Omon langsung menarik perhatian saya ketika melihat logo kampung Omon. Bahkan saya sampai mengubah pie chart prosentase anggaran belanja dengan siluet burung ikonik itu.

  3. Dana “Prospek”

    Nah, ini juga menarik. Ketika membaca sumber-sumber pendapatan Kampung Omon, saya termenung sejenak. Biasanya ada setidaknya 5 sumber pendapatan desa yang biasa saya buat infografik (1) Pendapatan Asli Desa (2) Dana Desa (3) Alokasi Dana Desa (4) Bagi Hasil Pajak/Retribusi Daerah (5) Bantuan Keuangan Kab/Provinsi.

    Di dokumen APBK Omon 2016 hanya ada 3 sumber pendapatan. Dana Desa, Alokasi Dana Kampung dan Dana Prospek sebagai Bantuan keuangan dari provinsi.

    Apa itu Dana Prospek? Mbah Google ternyata tau. Dana Prospek adalah alokasi anggaran dari Pemerintah Provinsi Papua berupa program strategis pengembangan ekonomi dan kelembagaan kampung, yang kemudian disingkat “PROSPEK”.

    Karena saya pikir ini cukup penting untuk dijelaskan, saya sisipkan dalam infografik.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s