Sudut Pandang

Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak orang bertengkar, berdebat atau bahkan saling melaporkan ke kepolisian hanya karena hal-hal yang awalnya (mungkin) terlihat sepele. Kok bisa ya?

Menurut saya, tentu sangat bisa dan mungkin terjadi, orang berdebat bahkan bertengkar tentang sesuatu yang sebenarnya sederhana, sepele jika mereka memiliki sudut pandang yang berbeda.

Ilustrasi ini tentu sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana perdebatan sering terjadi hanya karena sudut pandang yang berbeda tentang sebuah masalah, padahal sebenarnya bukan hal itu yang bermasalah, hanya sudut pandang kita saja yang berbeda.

perspective

Don’t Judge

Agar kita tidak melakukan kesalahan tersebut, sebaiknya jangan terburu-buru membuat kesimpulan tentang apa pun dan siapa pun. Apalagi jika kita baru melihat atau mendengarnya satu-dua kali.

Diperlukan waktu setidaknya tiga-empat kali untuk mengkonfirmasi, melihat lebih lanjut dan bila perlu bertanya kepada yang dianggap ahli, tentang sebuah perkara.

Proses konfirmasi atau tabayyun (dalam Islam) ini yang sering luput dari tahapan sebelum kita memutuskan bersikap tentang suatu masalah. Butuh pengetahuan sekaligus kesabaran yang cukup untuk menjadi pribadi yang bijaksana, tidak mudah nge-judge.

Saling Memahami

Ingat, manusia itu tempat salah dan lupa. Jadi, ngga perlu terlalu PeDe juga untuk berdebat dengan argumen setinggi langit, seolah-olah kita benar, padahal data dan informasi tentang argumen itu baru sedikit, atau bahkan tak ada sama sekali. Itu namanya sudut pandang subyektif, tidak obyektif.

Maka dalam sebuah diskusi atau bahkan debat, jika dilandasi dengan ilmu dan niat yang benar, maka tidak ada yang salah, yang ada adalah kedua pihak saling memberikan informasi dari sudut pandang masing-masing, untuk mencari obyektifitas atas sebuah perkara.

Diskusi atau debat yang produktif adalah ketika melahirkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sebuah masalah, dengan cara saling memahami posisi masing-masing pihak yang terlibat.

Saling Memaafkan

Jika terlanjut berdebat atau pernah berdebat dan ternyata kita salah, jangan ragu untuk mengoreksi dan meminta maaf. Karena sesungguhnya saling memaafkan adalah lebih baik dari pada saling menjatuhkan dan menjelekkan.

Orang yang meminta maaf bukan berarti lebih hina dari yang dimintai maaf, pun yang memberi maaf, bukan berarti lebih suci dari yang diberi maaf.

last but not least 

Saya mohon maaf jika pernah (sengaja atau ngga sengaja) adu argumen dan berdebat dengan Anda tentang apa saja, baik yang serius maupun bercanda. Apalagi ternyata yang saya sampaikan adalah sesuatu yang salah, keliru karena keterbatasan pengetahuan saya. Atau bisa jadi karena kemampuan komunikasi saya yang belepotan, maafin ya gaes.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s