Ada yang menarik dari kunjungan saya ke Desa Dermaji, 21 Mei 2019. Di sana, saya bertemu seorang akademisi dengan misi pelestarian budaya. Ternyata, misinya jarang diketahui publik: membuktikan bahwa sebagian wilayah Jawa Tengah dulunya adalah tanah Sunda.
Perkenalan di Dermaji, Difasilitasi Pak Bayu
Awalnya, hari itu saya berkunjung ke Desa Dermaji, Banyumas. Di sana, saya bertemu Bayu Setyo Nugroho, Kepala Desa Dermaji yang aktif memajukan desanya secara digital. Kemudian, di tengah obrolan, hadir tamu istimewa. Pak Bayu memperkenalkan beliau: Prof. Dr. Cece Sobarna, Guru Besar Linguistik Universitas Padjadjaran (Unpad).
Pertemuan itu berlangsung hangat dan santai. Kami duduk berhadapan di meja kayu sederhana. Namun, perbincangan yang muncul sama sekali tidak sederhana.

Buku Toponimi Sunda di Wilayah Jawa Tengah
Ternyata, Prof. Cece datang ke Dermaji bukan tanpa alasan. Beliau baru menyelesaikan sebuah buku penting. Judulnya: Toponimi Sunda di Wilayah Jawa Tengah. Selain itu, riset ini dilakukan selama beberapa tahun di tiga kabupaten: Cilacap, Banyumas, dan Brebes.
Apa itu Toponimi?
Singkatnya, toponimi adalah ilmu tentang asal-usul nama tempat. Nama desa, sungai, dan gunung menyimpan jejak bahasa masa lalu. Oleh karena itu, para ahli menyebutnya “fosil linguistik”. Nama-nama itu bertahan meski masyarakatnya sudah berganti bahasa.
Dari riset tersebut, banyak nama tempat di ketiga kabupaten itu berasal dari bahasa Sunda. Jelas, ini bukan kebetulan. Sebaliknya, ini adalah bukti sejarah. Wilayah-wilayah tersebut dulunya bagian dari Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Sunda di Tanah yang Kini Berbahasa Jawa
Namun, ada fakta yang cukup mengejutkan. Nama-nama tempatnya masih berbau Sunda. Akan tetapi, masyarakatnya kini sudah berbicara bahasa Jawa. Akibatnya, bahasa Sunda perlahan tergusur dari kehidupan sehari-hari.
Secara administratif, wilayah ini masuk Provinsi Jawa Tengah. Namun secara linguistik dan historis, akarnya tetap Sunda.
Oleh sebab itu, Prof. Cece turun langsung ke lapangan. Beliau datang ke desa-desa seperti Dermaji. Tujuannya jelas: mensosialisasikan temuan riset dan mendorong pelestarian bahasa Sunda di Jawa Tengah.

Kolaborasi Portal Publikasi Toponimi Sunda di Jawa Tengah
Lebih jauh, dalam obrolan itu saya diajak untuk berkolaborasi. Rencananya akan dibuat sebuah portal digital khusus. Portal ini akan mempublikasikan hasil riset toponimi secara online. Dengan demikian, siapa saja bisa mengaksesnya — peneliti, pelajar, budayawan, maupun masyarakat umum.
Bagi saya, ide ini sangat menarik. Bayangkan ribuan nama tempat beserta penjelasan asal-usulnya. Semuanya tersaji dalam satu platform yang mudah dicari. Singkatnya, ini adalah jembatan antara riset akademik dan publik luas.
QR Code untuk Sosialisasi: Giliran Saya Berbagi
Sebelumnya, Pak Bayu menceritakan sesuatu kepada Prof. Cece. Katanya, saya baru saja menulis ebook berjudul QREASI (QR Code Made Easy). Buku ini adalah panduan praktis penggunaan QR code. Misalnya, untuk promosi hingga publikasi informasi.
Mendengar itu, Prof. Cece langsung tertarik. Beliau melihat potensi QR code untuk sosialisasi riset toponimi. Akhirnya, saya diundang mengisi workshop penggunaan QR code. Workshop ini akan diadakan bersamaan dengan acara sosialisasi di Dermaji.
- Riset: Toponimi Sunda di Cilacap, Banyumas & Brebes
- Kolaborasi: Portal digital publikasi data toponimi
- Workshop: QR Code untuk sosialisasi budaya & riset

Refleksi: Pertemuan yang Membuka Wawasan
Pada akhirnya, satu hal paling membekas dari pertemuan itu adalah pentingnya mendokumentasikan pengetahuan lokal. Riset Prof. Cece bukan sekadar karya akademik. Lebih dari itu, ini adalah upaya menyelamatkan identitas budaya yang pelan-pelan memudar.
Selain itu, teknologi bisa menjadi alat yang sangat ampuh. QR code, portal web, media sosial — semuanya bisa menjembatani warisan budaya dengan generasi digital.
Kesimpulannya, pertemuan tak terduga di Dermaji itu mengingatkan saya pada satu hal penting. Kolaborasi lintas bidang adalah kuncinya. Akademisi, pegiat desa, dan praktisi teknologi — bersama, mereka bisa melestarikan apa yang hampir hilang.
